Menurut Anne Thomas Manes (Vice President & Research Director “Burton Group Application Platform Strategies”), SOA mencapai kematiannya pada tanggal 1 Januari 2009 ketika terkena dampak resesi ekonomi. SOA bertahan karena turunannya, seperti mashup, BPM, SaaS, Cloud Computing, dan pendekatan arsitektur lainnya yang bergantung pada layanan.
SOA dikatakan sebagai penyelamat IT, tetapi yang terjadi SOA malah menjadi suatu eksperimen besar yang gagal. Awalnya, SOA digunakan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan agility pada skala besar. SOA telah gagal untuk memberikan manfaat yang dijanjikan (kecuali dalam situasi tertentu). Setelah perusahaan menginvestasikan jutaan uangnya untuk SOA, sistem TI tidak lebih baik dari sebelumnya. Pada kebanyakan organisasi, hal buruk yang terjadi adalah biaya yang tinggi, proyek yang memakan waktu lebih lama, dan sistem yang lebih rentan. Dengan budget yang terbatas pada tahun 2009 ini, sebagian besar organisasi telah mengurangi dana mereka untuk proyek SOA.
Saat ini adalah waktunya menerima kenyataan. Kepenatan SOA telah berubah menjadi kekecewaan SOA. Orang bisnis tidak lagi percaya bahwa SOA akan memberikan keuntungan spektakuler. SOA telah menjadi kata yang buruk dan harus dihapus dari kosakata.
Warisan SOA merupakan suatu hal yang tragis bagi industri IT. Organisasi harus mati – matian membuat arsitektur perbaikan aplikasi portfolio mereka. Service-oriented merupakan prasyarat untuk integrasi data dan proses bisnis yang cepat yang memungkinkan pengembangan model berubah, seperti mashups, arsitektur dasar SaaS, dan cloud computing. Meskipun ”SOA is dead”, kebutuhan service-oriented architecture tetap lebih besar. Mungkin itulah tantangannya. Orang – orang lupa manfaat dari SOA. Mereka terlalu sibuk dalam perdebatan teknologi yang bodoh, seperti “ESB apakah yang paling baik” atau “WS versus REST”). Selain itu, orang – orang juga melupakan hal yang penting dari SOA yaitu architecture dan services.
SOA yang berhasil akan memerlukan gangguan terhadap status quo. SOA bukan hanya soal mengembangkan teknologi baru dan membangun service interfaces pada aplikasi yang telah ada, tetapi juga memerlukan redesign dari aplikasi portfolio dan memerlukan pergeseran yang besar dalam mengoperasikan IT. Sekelompok kecil organisasi yang telah melihat keuntungan SOA yang spektakuler, memperlakukan SOA sebagai agen transformasi. Dalam setiap kisah sukses, SOA hanyalah salah satu usaha untuk melakukan transformasi. Dan inilah rahasia kesuksesan SOA; SOA membutuhkan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Jika tidak, kita perlu bertanya pada diri kita sendiri mengapa kita menggunakan SOA.
Teknologi terbaru tidak akan membuat segalanya menjadi lebih baik. Kenaikan proyek integrasi tidak akan mengurangi biaya dan meningkatkan agility secara signifikan. Jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang spektakuler dari SOA, maka kita harus mempunyai komitmen yang spektakuler pula untuk berubah. Point penting dari SOA yang menjadi pusat konsentrasi kita adalah Service.
Dan Foody
Dan Foody sangat setuju dengan pendapat Anne tersebut dan juga setuju bahwa kebutuhan services akan tumbuh. Dan Foody membagi menjadi empat point :
BPM, cloud computing, SaaS, PaaS, composites, mashups akan terus berjalan dengan baik bahkan dalam situasi perekonomian tahun 2009. Alasannya :
1. Dapat dileverage sesuai yang dibutuhkan
2. Dapat dilakukan dengan cepat
3. Menyediakan benefit yang dapat diukur dalam satu hari.
Di sinilah kita dapat melihat level yang lebih tinggi di atas semua aplikasi service-oriented untuk menciptakan suatu arsitektur yang kohesif yang mengikutinya. SOA mati pada tahun 2009, karena pendekatan perspektif arsitektural akan selalu gagal. Tanpa perubahan lain dalam organisasi, SOA tidak akan berhasil.
c. Service Delivery
Service di sini diartikan sebagai ”value apa yang dikirim kepada yang lainnya” (dengan tindak lanjut ”Bagaimana caranya untuk meningkatkan value yang saya kirim untuk yang lainnya”). Hal ini membutuhkan suatu transformasi dari kebanyakan organisasi IT dan kebanyakan belum ada yang melakukannya.
d. Service-Oriented IT
Setelah kita dapat menguasai service delivery pada skala kecil, maka kita akan dapat menanggulanginya pada skala yang lebih besar : merubah IT dari project and application oriented menjadi service oriented. Hal ini adalah sebuah transformasi besar yang tidak dapat dilakukan tanpa peran dari CIO. Tidak ada enterprise architect yang dapat melakukannya dan tidak akan terjadi sampai kita dapat memahami service delivery. Ini bukanlah proyek tahun 2009 bagi kebanyakan organisasi, tetapi adalah proyek tahun 2010 ditambah dengan transformasi. Kebanyakan organisasi menjalankan SOA tanpa memahami terlebih dahulu apa maksud dari deliver service, dan tidak menyadari mereka membutuhkannya, dan memulai dengan sebuah transformasi service-oriented IT.
SOA adalah sebuah transformasi teknikal dan arsitektural tetapi tidak dapat terjadi tanpa fokus awal terhadap transformasi organisasi dan kultural dari service delivery dan service oriented IT. Itulah penyebab SOA mati pada tahun 2009 dan mengapa service akan terus hidup. Tetapi ketika sebuah organisasi telah menyadari dan memahami service-oriented IT, maka SOA akan bangkit.
Problem yang ada pada SOA terletak pada architecture. Terminologi architecture tidak pernah benar – benar menerangkan jenis arsitektur yang akan digunakan, sehingga kita membutuhkan dua terminologi yaitu Service Oriented Enterprise Architecture (SOEA) dan Service Oriented Application Architecture (SOAA).
Dhananjay Nene
Dhananjay Nene tidak setuju ”SOA is dead”. SOA tidak pernah lebih sehat. SOA terjadi melalui transformasi. Ada beberapa hal tentang SOA yang mati atau mungkin mati:
a. Vendor driven hype
Hal ini selalu menjadi salah satu kelemahan. Tadinya, SOA dilihat berdasarkan vendor – vendor nya. Tetapi saat ini SOA dipopulerkan melalui kisah sukses di lapangan (seperti Twitter / Facebook API). Salah satu problem adalah fakta bahwa vendor menekan kumpulan standar dan alat-alat kerja WS-* stack yang agak mahal. Saat ini, SOA lebih berbasis REST.
b. Top down SOA evangelising
SOA menggunakan pendekatan top down evangelising. Saat ini SOA dipopulerkan melalui ’small success story’ pada skala kecil dan regional, sebuah perhatian yang secara perlahan memperluas mindshare-nya.
c.
Jika kita mencoba untuk mencoba mencari strategi yang tepat untuk SOA pemerintahan, kita akan berjalan sejauh dan secepat kita dapat keluar dari posisi kita. Rusia mencoba dengan ekonomi mereka, demikian pula dengan Cina, seperti yang dilakukan orang
Internet telah menyediakan sebuah lingkungan yang menghargai inovasi dan mengambil risiko di tingkat lokal yang membantu membuat web services begitu banyak kisah sukses. Kisah sukses mengenai service sharing dan inovasi tersebut harus dapat dibagi dalam perusahaan melalui intranet dan ekstranet. SOA yang kita lihat saat ini terlihat lebih organic, ringan (REST), dan tidak terencana. SOA berbasis kepada service yang serupa dengan organisme atau sebuah business unit. Rearchitecture dilakukan sesuai dengan keputusan masing – masing daerah. Selama service dianggap sebagai karakteristik, maka SOA akan sukses. Pelaksanaan SOA dilakukan mulai dari yang sederhana hingga ke sangat kompleks dan tergantung pada pilihan yang dibuat dari perspektif lingkup, harapan dan teknologi. Hal – hal yang harus diperhatikan mengenai SOA antara lain :
1. SOA is not about business alone
SOA dapat digunakan untuk business services dan juga dapat digunakan dengan mudah untuk membangun technical services.
2. SOA tidak memerlukan workflow management / BPM dan lain-lain
3. SOA tidak butuh didistribusikan
4. SOA does not prescribe messaging or event based processing
5. SOA bukanlah web services, RES, dan sebagainya
Carsten Molgaard
SOA is not dead. ‘Death’ hanyalah sebuah bagian alami dari cara inovatif. Meskipun standar teknologi SOA telah dewasa, visi penggunaan SOA (meningkatkan reusability dan flexibility serta mengurangi biaya) adalah hal yang baru bagi bisnis.
Sebagian besar perusahaan tidak akan mengadopsi SOA untuk fleksibilitas bisnis sampai SOA tersebut matang dan telah menjadi lebih mudah dan memiliki resiko kecil ketika diadopsi. Carsten Molgaard tidak setuju pendapat Anne Thomas Mane yang mengatakan kunci kedewasaan SOA terletak pada pembuatan architecture-nya. Anne Thomas Mane mengatakan :
“One of my favorite comments that came back from the blog post were the number of people who said, “Basically, we just really suck at doing architecture.””
Menurutnya, arsitektur adalah struktur dasar yang tidak berubah setiap harinya. Arsitektur merupakan “long term view”.
Jordan Braunstein
Big SOA mati dan little SOA berkembang. Big SOA, seperti BPM, BAM, dan ESB, membutuhkan upaya yang besar dan kompleks untuk mendapatkan momentum SOA. Pelanggan menginginkan hasil yang cepat, service yang cepat, serta ROI yang cepat yang dapat mentranslasikan menjadi SOA ringan yang sederhana dan mudah dicerna tanpa harus membeli atau mempelajari seluruh software suite atau vendor tool platform yang dapat menghasilkan service lebih banyak. Inilah yang disebut little SOA yang dapat menciptakan services dalam hitungan menit. Kemampuan tools Big SOA, seperti BPM, BAM, dan ESB, dapat tertunda selama 6 hingga 9 bulan. Meskipun Big SOA merupakan pendekatan yang powerful, customer tidak memiliki kesabaran untuk penerapan Big SOA. Investasi produk Little SOA dapat menciptakan kemudahan, cepat, agile, dan terjangkau, meskipun menurutnya little SOA tidaklah sempurna.
Samisa Abeysinghe
Samisa melihat ada tiga poin kunci dari pernyataan Anne Thomas Mane :
a. SOA met its demise on January 1, 2009, when it was wiped out by the catastrophic impact of the economic recession.
b. Although the word 'SOA' is dead, the requirement for service-oriented architecture is stronger than ever.
c. SOA helps reduce cost and provides business agility, so it really addresses the two biggest concerns going on.
SOA membantu mengurangi biaya dan business agility, serta kebutuhan SOA akan lebih kuat. Resesi ekonomi mengganggu pengadopsian SOA. SOA telah terbukti mahal untuk diimplementasikan dan tidak terjangkau. SOA membantu mengurangi biaya – biaya, tetapi budget implementasi SOA menghalangi pengadopsian SOA dalam perusahan sehingga perusahaan tidak bisa menjadi agile, seperti harapan perusahaan. Tetapi kita diharapkan menjadi agile untuk menghadapi tantangan resesi tersebut. Biaya implementasi SOA dari vendor sangat tinggi, sehingga secara finansial tidak layak untuk diadopsi pada perusahaan. Samisa menyarankan penggunaan WSO2 Carbon untuk menghidupkan kembali SOA, di mana WSO2 :
a. Mudah untuk dikembangkan dan dikelola
b. Registry based SOA appliances
c. Open source, mudah digunakan, adanya dukungan mailing list dan forum, tarif yang reasonable untuk development dan dukungan produksi.
d. State of the art technology, with unmatched feature set, and complete platform. You need not go to other vendors in search of missing features.
Paul
Paul mengatakan bahwa SOA telah mati. Ia juga menambahkan suatu pertanyaan,”Apakah SOA pernah hidup?”. Selain financial correction, tidak ada yang dapat membuat orang bangun dan mengacuhkan suatu crap yang dapat menghalangi jalan mereka.
Glauco Reis
Berdasarkan pendapat Anne yang mengatakan bahwa penyebab utama dari kematian SOA adalah resesi ekonomi, menurutnya SOA bukanlah satu – satunya yang terkena dampak resesi ekonomi.
SOA sebenarnya bertujuan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan reusability, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Menurutnya, kita dapat menghilangkan akronim – akronim SOA tanpa problem. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah dapatkah kita menghilangkan akronim SOA tersebut tanpa mendeskripsikan problem. Kita dapat membuat suatu akronim baru dan bisa saja satu tahun dari sekarang akronim tersebut akan mati karena penyebab masalah tidak tetap. Glauco mengusulkan untuk mengubah list nama akronim SOA seseing mungkin untuk setiap kegagalan teknologi implementasi IT. Glauco membagi menjadi dua topic, yaitu :
a. Biaya yang tinggi
Berdasarkan interview-nya dengan Thomas Erl, Thomas Erl mengatakan biaya awal pengimplementasian SOA memang lebih besar sampai dengan adanya perbaikan dalam hal reusing, di mana dengan reusing tersebut dapat mengurangi biaya. SOA seharusnya menjadi “long term investment”. Glauco berkesimpulan bahwa tanpa adanya reusing, biaya SOA akan selalu tinggi.
b. Reuse
Perusahaan yang mengimplementasikan SOA tidak khawatir mengenai governance, tetapi setelah adanya banyak project SOA yang tidak terhitung di seluruh dunia barulah kita membicarakan governance. Mungkin inilah yang menjadi salah satu penyebab kegagalan implementasi SOA. Glauco berpendapat bahwa tampaknya tanpa governance, tidak memiliki kesempatan mengurangi biaya dan mendapatkan keuntungan dari SOA. Services governance adalah bagian dari SOA. Sehingga jika kita membicarakan service governance, padahal implementasi SOA sudah terjadi beberapa waktu yang lalu. Glauco menarik kesimpulan bahwa selama ini kita melakukan implementasi SOA dengan cara yang salah, SOA sebagai arsitektur telah mati, tetapi service governance masih ada. Governance bukanlah sesuatu yang dapat kita beli dari vendor. Governance berarti control, membutuhkan orang dan suatu metodologi untuk menyadarinya.
Gunther Lenz
Gunther Lenz mempercayai bahwa buzzword seperti SOA is dead sering tidak digunakan dalam dunia industri, tidak dimengerti, dan jarang yang dapat memegang kata – katanya. Grafik di bawah ini menggambarkan Hype SOA dimulai pada tahun 2002 dan benar – benar dilaksanakan untuk waktu yang lama hingga terminologi Cloud Computing mengambil alih tren IT. Cloud Computing sebagai paradigma baru termasuk banyak gagasan yang sekarang kita gunakan seperti SaaS dan Web 2.0. Saat ini kita masih berada pada tahap awal dalam mendefinisikan gagasan Cloud Computing sehingga bisa saja terjadi pelaksanaan yang berbeda – beda. Hal ini sangat mirip dengan terminologi SOA pada tahap awal, sehingga kita berharap tidak jatuh dalam perangkap paradigma arsitektural dengan teknologi tertentu (seperti yang kita sering lakukan dengan SOA dan web services).
Mike Kavis
Mike Kavis sependapat dengan artikel Anne Thomas. Mike cemas bahwa akan terjadi kesalahan yang sama pada teknologi selanjutnya seperti mashups, Cloud Computing, SaaS, dan lain – lain. Menurutnya, kita hanya tertuju pada architecture.
a. Kita berpikir bahwa proses adalah suatu hal yang buruk dan memperlambat kita. Proses yang buruk memanglah buruk, tetapi proses yang baik dapat membimbing kita melalui langkah – langkah yang tepat kepada kesuksesan implementasi. Ada suatu keseimbangan antara process dan agility.
b. Kita adalah orang yang tidak sabar.
Para eksekutif tidak sabar menunggu keuntungan yang dapat diambil dari pendekatan service-oriented. Mereka menginginkan hasilnya saat itu juga, sehingga langkah – langkah dalam membangun service oriented menjadi salah dan unmanaged.
c. Kita tidak paham apakah itu seorang architect
d. Kita tidak mengerti apakah yang dimaksud architecture
e. Kita kehilangan pandangan tentang value dan perdebatan semantic
f. Kita kekurangan skill leadership dan Emotional Intelligence
Mike Kavis menuliskan 10 alasan mengapa orang – orang gagal membuat SOA
a. Mereka gagal untuk menjelaskan nilai bisnis dari SOA
Kebanyakan orang melihat SOA dari sisi teknologi saja. Mereka lupa bahwa SOA merupakan kebutuhan bisnis yang digunakan untuk memecahkan masalah
b. Mereka meremehkan dampak perubahan organisasi
c. Mereka gagal untuk mendapatkan dukungan kuat dari eksekutif
d. Mereka mencoba untuk mengimplementasikan SOA pada harga yang murah
e. Mereka kekurangan skill yang dibutuhkan untuk men-deliver SOA
f. Mereka memiliki manajemen proyek yang buruk
g. Mereka berpikir bahwa SOA adalah sebuah project, bukanlah sebuah architecture
h. Mereka meremehkan kompleksitas SOA
i. Mereka gagal untuk melaksanakan dan mematuhi SOA governance
j. Mereka membiarkan vendor mengendalikan architecture
Duane "Chaos" Nickull
Menurut Duane, SOA belumlah mati, kompleksitaslah yang membunuh implementasi yang ada. Beberapa orang yang Duane kenal mengiriminya referensi dan link dalam berbagai bentuk yang menyatakan bahwa SOA telah mati. Pernyataan mereka semua didasarkan pada artikel pada blog Anne Thomas Mas (di mana ia tidak dapat menemukannya secara langsung). Sebelum Duane menyatakan tidak setuju, ia menyatakan bahwa ia menghormati Anne sebagai seorang analis yang secara serius menulis banyak topik yang didiskusikan dalam tulisan ini dan yang lainnya. Apakah ini suatu kesalahan semantik? Duane tidak yakin sampai ia dapat membaca tulisan Anne.
Mungkin masalah semantik dihasilkan dari fakta bahwa banyak orang salah kaprah yang menyatakan bahwa SOA itu adalah segala sesuatunya tentang integrasi. Sebenarnya masalahnya bukan di situ. Ini menyangkut arsitektur. Karenanya ‘A’ terdapat dalam akronim tersebut. Arsitektur bukanlah integrasi, meskipun kita dapat menggunakan bahasa yang mendeskripsikan arsitektur seperti UML untuk menangkap makna arsitektur dalam proyek integrasi kita.
Menurut Duane, Info World Paul Krill memulai artikelnya dengan suatu gagasan yang aneh : “SOA sudah mati tapi servicenya masih tetap hidup, berdasarkan pada analis terkemuka yang mempublikasikan orbituari pada SOA dalam sebuah postingan blog di hari Senin“. Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi Duane adalah apakah Paul mengimplikasikan bahwa arsitektur yang diorientasikan pada service sendiri telah mati, padahal service sendiri belumlah mati. Ini tidak bermakna omong kosong pada segala sesuatu yang memiliki arsitektur, baik secara eksplisit atau tidak. Duane pun menghormati Paul Krill dan artikelnya yang sangat seimbang, mengeksplorasi beberapa bagian.
Services tentunya adalah arus utama revolusi web baru. Sesuatu seperti SaaS, Mashups dan sebagian besar RIAs berdasar pada service. Duane akan tidak setuju dan menyatakan bahwa arsitektur akan terus berlanjut dan berfokus pada services sebagai batasan abstrak kebutuhan dan kemampuan untuk waktu yang lama. Faktanya, OASIS SOA Reference Model mendeskripsikan pola yang sangat baik dan memiliki durabilitas yang tidak dapat dipasangkan keluarga teknologi seperti Web Services. SOA disini adalah yang terakhir dan akan tetap menjadi yang terakhir.
Ada beberapa aspek mulai mati seperti keluarga teknologi yang digunakan untuk mengimplementasikan SOA telah menjadi sesuatu yang terlalu rumit. Dari poin ini, implementasi SOA menggunakan WS-*stack adalah tugas yang menakutkan. Hal ini diintisarikan oleh Mark Hansen dalam bukunya "SOA Using Java Web Services". Di buku ini tertulis pada halaman 2, “Saya bodoh atau Java Web Services terlalu sulit?”
Pada ringkasan itu, faktanya bahwa implementasi WS dari SOA faktanya meningkat. Bekerja pada banyak standard yang ada sekarang atau hanya sekadar mengobservasi kerja mereka, ini seperti WS-TX, suatu profile untuk Kerberos untuk WS-Security dan JAXB sterilisasi/destirilisasi faktanya adalah teknologi yang sangat maju. Dengan langkah ini, akan mendorong banyak developer untuk menggunakan pendekatan REST style SOA. Menurutnya, tujuan dari Anne cukup aneh menulis entri blog yang hebat pada BUKAN melalui REST style SOA di sini.
Kesimpulan yang diambil Duane adalah SOA merupakan arsitektur yang berfokuskan pada services sebagai suatu abstrak yang menjadi batas antara kebutuhan dan kemampuan. Misalnya, bentuk arsitektur yang diketahui sebagai SOA yang menggunakan cetak biru dan menghubungkannya bisnis services belumlah mati dan akan tetap bertahan pada decade berikutnya. Menurutnya, SOA belum mati.
Andrej Koelewijn
Menurut Andrej, SOA belum mati dan masih dalam tahap awal. Begitu SOA mati, services adalah apa yang harus kita fokuskan menurut Anne Thomas? Bagaimana bisa SOA bukanlah suatu services? SOA berarti Service Oriented Architecture. Menurutnya, sepertinya Anne bertentangan dengan dirinya sendiri
SOA hanya akan mati apabila kita menginterpretasikan SOA adalah menciptakan web services dan membangun paduan aplikasi dengan BPEL. Hal ini sangat bodoh. Dan sayangnya, ini cukup umum. Andrej telah melihat aplikasi – aplikasi sederhana yang dibangun dengan banyak proses BPEL, menghasilkan sesuatu yang sangat kompleks, sulit dilaksanakan, dan sulit mengatur aplikasi. Dengan performa yang buruk. Dan bahkan lebih parah lagi, sulit diubah. Tidak ada yang cepat dengan ini.
Orang – orang berakhir pada suatu kesimpulan untuk mengatakan tidak pada SOA. Dimana ini sendiri bukanlah berita buruk. Ini hanyalah suatu kabar buruk bagi orang-orang yang telah terstandarisasi pada teknologi yang harus diubah. Mereka harus kembali berpikir pada standar.
Kita masih harus membutuhkan lebih banyak inovasi untuk dapat membuat hal ini menjadi benar. Itulah mengapa sebabnya Andrej berpikir kita masih dalam tahap awal pengembangan SOA. Kita perlu menemukan dan mempelajari apa yang bekerja dan apa yang tidak. Dan ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah karena requirement akan terus berubah. Pertama kita telah mengimplementasikan services dalam perusahaan, kemudian kita perlu mengintegrasikannya dengan perusahaan lain, dan sekarang kita perlu menambahkan cloud services untuk menjadikan satu, dan akhirnya kita perlu mempertimbangkan browser.
Menurutnya, pelajaran terpenting dalam hal ini adalah berkeksperimen dan belajar sebelum menghasilkan suatu standarisasi. Banyak orang cenderung berpikir bahwa kita dapat mendesain produk yang sempurna dan framework pada kertas, tetapi pada kenyataannya kita memerlukan percobaan, mempelajari dan mengulangnya. Banyak SOA framework yang lebih baru merupakan suaut peningkatan besar daripada standard sebelumnya. Cukup melihat pada framework seperti Apache Camel dan kita akan tahu bahwa ini dapat melakukan dengan lebih baik daripada BPEL. OSGI juga membuktikan dapat bermanfaat ketika bekerja dengan services. Menurut Andrej, REST mempunyai banyak manfaat lebih daripada Web Services dengan SOAP.
Kurt Cagle
Kurt Cagle berpendapat bahwa SOA sudah mati merupakan hanyalah masalah waktu. Anne Thomas Manes meningkatkan sedikit kecurigaan dalam pers IT ketika dia menyatakan SOA sudah mati. Anne memberi pukulan tajam dalam pernyataannya di atas karirnya sebagai analis SOA untuk Burton Group, Anne juga mantan CTO dari Systinet, sebuah perusahaan SOA yang dibeli oleh Hewlett Packard, dan salah satu dari arsitektur awal dari WS architecture. Jadi begitu dia berkata “Jim, ini sudah mati”, orang-orang mendengarkan.
Kurt pernah berkesempatan dengan Anne Thomas Manes dan secara keseluruhan, Kurt tidak berpikir kita telah terlalu jauh dari filosofi SOA. Kurt memiliki sejumlah masalah dengan teknologi, dari fakta yang kelihatannya lebih sedikit teknologi dan lebih banyak istilah marketing untuk membedakan sesuatu, yang faktanya teknologi yang didistribusikan adalah, dengan sangat alami, didistribusikan. SOA model yang pernah ia lihat dipulas terlalu sering agar telihat sulit untuk membangun system terpusat dan tidak ada yang didistribusikan. Distributed programming sangat berbeda dengan system terpusat, dan mencoba untuk mengaplikasikan satu model ke yang lainnya akan memberikan masalah dengan cepat.
Mungkin syarat terberat SOA faktanya adalah, pada akhir-akhir ini, masih menggunakan RPC model yang dikonsentrasikan pada API yang dibedakan dari satu provider ke yang lainnya. Hasil dari pemikiran ini adalah lautan dari API, dimana sekarang terdapat puluhan ribu API, masing-masing melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang lainnya, dengan kohesi yang sangat sedikit, dan semantik yang sedikit lebih rumit ketika kita memiliki banyak microlanguage yang saling berkompetisi untuk menjadi atensi programmer.
Sistem yang tidak sinkron lainnya dari publishing system dapat menerima kembali semua dokumen yang sesuai dengan kriteria dan menghasilkan tindakan berdasarkan dokumen tersebut, tetapi seharusnya service arsitektur bersifat immaterial.
Perubahan tak terlihat lainnya memiliki percabangan besar. Dengan menghilangkan intent (pemanggilan prosedur jarak jauh), maka kita juga menyederhanakan interface ke dalam suatu service location (URL), mungkin 5 kata kerja yang dapat diaplikasikan secara konsisten (GET, POST, PUT, DELETE dan HEAD), data transport protocol (seperti Atom), dan lain – lain hanya sekedar data. Kita tetap dapat memperolehnya tanpa transport protocol, tetapi akibatnya membuat akuntansi menjadi semakin rumit.
Kurt Cagle melihat meledaknya penggunaan model XML database menyebar dengan luas, dan penempatan Xquery membuat abstraksi dari kumpulan layer ... bagian yang diketahui sebagai XRX model. Seperti sistem yang umumnya jauh dari statis, yang berarti tambahan beban bagi server individu yang cenderung menyebabkan server menjadi down.
Akhirnya model ini menjadi satu dari kegagalan-kegagalan utama SOA. Pada sebagian besar sistem SOA, perimeter transactions, seperti mensubmit isi dari halaman web ke sebuah server atau sebuah arus JSON kembali dari sebuah server untuk digunakan dan dijadikan satu, terlihat seperti suatu yang patut direnungkan. Saya sering terkejut dengan fakta bahwa istilah SOA (web services) memiliki kinerja yang buruk pada suatu web.
Pembenaran dari hal ini adalah bahwa sistem SOA digunakan untuk menyusun sistem bisnis yang kompleks. Ironisnya, selama sepuluh tahun ini, aplikasi yang terdapat pada middleware layer sendiri yang terlihat menjadi tidak berguna sebagai kendaraan tranport yang lebih penting di masa lalu dan sistem campuran seperti AJAX cenderung menjadi metode untuk berinteraksi dengan data. Tidak diragukan lagi bahwa vendor SOA akan terus mencoba membangkitkan prop up mereka yang mati untuk sementara waktu, bahkan sebagai ‘business axe” dalam proyek SOA setelah proyek SOA menjadi makin kompleks, unworkable, dan banyak yang cacat.
My Conclusion
Dead di sini diartikan bahwa penerapan SOA harus dengan persetujuan dengan orang bisnis, seperti melibatkan CIO. Yang terjadi adalah sebaliknya. Kebanyakan organisasi belum memahami benar apakah itu service oriented IT maupun service delivery, sehingga yang terjadi adalah biaya penerapan SOA yang semakin membengkak, waktu implementasi SOA yang lama, dan dampak buruk lainnya bagi perusahaan. Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah bukan hanya bagaimana agar SOA tetap hidup, tetapi juga bagaimana agar SOA terus berkembang. Transformasi juga dibutuhkan dalam penerapan SOA. SOA telah merubah dari project application-oriented menjadi service-oriented. Yang harus dilakukan oleh organisasi antara lain :
a. Memahami filosofi SOA yang berfokus pada service.
b. Orang – orang teknikal harus memahami kenyataan bisnis. Orang bisnis menginginkan adanya keuntungan yang besar, sehingga sudah saatnya SOA masuk ke dalam Enterprise Architecture yang besar.
c. Para pelaku bisnis harus menyadari bahwa suatu pengembangan arsitektur membutuhkan waktu, uang, dan sumber daya manusia.
REFERENCES



No comments:
Post a Comment